Rabu, 05 Desember 2012

The Nightingale & The Rose


by Oscar Wilde


Inilah sebuah kisah mengharukan tentang pengorbanan seekor burung Bul Bul (Nightingale) karya Oscar Wilde.... betapa cinta yang bertepuk sebelah tangan itu bagai tak ada artinya meski harus berkorban nyawa...

 "Death is a great price to pay for a red rose,' cried the Nightingale, 'and Life is very dear to all. It is pleasant to sit in the green wood, and to watch the Sun in his chariot of gold, and the Moon in her chariot of pearl. Sweet is the scent of the hawthorn, and sweet are the bluebells that hide in the valley, and the heather that blows on the hill. Yet Love is better than Life, and what is the heart of a bird compared to the heart of a man?'"
 "She sang first of the birth of love in the heart of a boy and a girl. And on the topmost spray of the Rose-tree there blossomed a marvellous rose, petal following petal, as song followed song. Yale was it, at first, as the mist that hangs over the river - pale as the feet of the morning, and silver as the wings of the dawn. As the shadow of a rose in a mirror of silver, as the shadow of a rose in a water-pool, so was the rose that blossomed on the topmost spray of the Tree."


" Dia berkata bahwa dia hanya akan menari denganku jika aku membawakannya bunga mawar merah," jerit Sang Pelajar belia; "tetapi di kebunku tidak ada satupun bunga mawar berwarna merah."

Dari dalam lubang di pohon ek, Burung Bulbulmendengar kesulitan sang pelajar, dan dia memeriksa diantara daun-daun, dan berpikir.

" Tidak ada bunga mawar merah di seluruh kebun!" jerit Sang Pelajar lagi, dan mata indahnya penuh dengan air mata. " Ah, bagaimana kebahagiaan banyak bergantung dari hal-hal kecil. Aku sudah membaca semua tulisan orang-orang yang bijaksana, dan rahasia-rahasia filsafat telah ada dalam genggamanku, namun hanya karena kurang sekuntum bunga mawar merah hidupku menjadi berantakan."

" Akhirnya kutemukan seorang kekasih sejati," kata Sang Burung Bulbul.

" Malam demi malam aku telah menyanyikan tentang seorang kekasih sejati, meskipun demikian aku tidak mengenalnya; malam demi malam aku bercerita pada bintang-bintang tentang kekasih sejati, dan sekarang aku bisa melihatnya. Rambutnya sepekat bunga yacintadan bibirnya semerah bunga mawar yang ia dambakan; namun keinginannya telah membuat wajahnya sepucat gading, dan duka cita telah bertengger di keningnya."

" Pangeran akan menyelenggarakan pesta besok," gumam Sang Pelajar belia, " dan cintaku akan ada disana. Jika aku membawakannya bunga mawar merah ia akan menari denganku hingga dinihari. Jika aku membawakannya bunga mawar merah, ia akan berada dalam pelukanku, dan dia akan menyandarkan kepalanya diatas bahuku, dan aku akan menggengam tangannya. Tetapi tidak ada bunga mawar merah dalam kebunku, maka aku akan duduk dalam kesepian, dan dia akan melewati aku seolah-olah aku tidak ada, dan aku akan patah hati. "

" Inilah seorang pecinta sejati." Kata Sang Burung Bulbul. " Setiap aku bernyanyi, ia menderita, dan setiap kegembiraanku adalah kepedihannya. Aku yakin Cinta adalah hal yang indah. Cinta lebih berharga dibandingkan jamrud, dan lebih bernillai dari batu opal yang terbaik. Mutiara dan buah delima tidak bisa ditukar dengan cinta, di pasar manapun cinta tidak dapat dijual, pun tidak dapat dibeli dari pedagang, tidak dapat ditimbang ataupun ditukar dengan emas.

" Para musisi akan duduk dipanggung," kata Sang Pelajar belia, " dan memetik senar gitar mereka, lalu cintaku akan menari mengikuti irama petikan harpa dan gesekan biola. Ia akan berdansa dengan ringannya, dan bagi yang menyaksikan, seakan-akan kakinya tidak menyentuh lantai. Dan para pria-pria dengan setelan abu-abu yang sama akan berebut berdansa dengannya. Namun cintaku tak akan berdansa denganku karena aku tidak memiliki bunga mawar merah untuknya"; Ia pun terkulai lemas diatas rumput, membenamkan wajahnya dalam kedua tangannya dan menangis.

" Mengapa ia menangis?" tanya Kadal Hijau kecil yang berlari cepat dengan buntut mencuat keatas dan lekas-lekas melewati pelajar tersebut.

" Iya, kenapa ya ia menangis?" tanya si Kupu-Kupu yang mengibas-ibaskan sayapnya dibawah sinar mentari.

" Iya, kenapa ya kira-kira?" Bisik Bunga Aster pada tetangganya dengan nada yang lembut dan perlahan.

" Ia menangis karena menginginkan mawar merah," jawab Sang Burung Bulbul.

" Mawar merah?" sahut mereka bersama; " aduh, betapa menggelikannya!" dan si Kadal Kecil yang mempunyai pembawaan sinis pun tertawa terbahak-bahak.

Namun Sang Burung Bulbul mengerti rahasia duka Si Pelajar muda, ia pun duduk diam di atas dahan Pohon Ek dan berpikir tentang misteri Cinta.

Tiba-tiba ia membentangkan sayap-sayap coklatnya dan meluncur diudara. Ia terbang melewati taman, dan seringan bayangan ia mengudara melintasi kebun.

Ditengah bukit-bukit rumput terdapat Pohon Mawar yang cantik, dan ketika Sang Burung Bulbul melihatnya iapun segera menghampiri seraya berkata,

" Berikan aku sekuntum bunga mawar merah," pintanya, "dan aku akan bernyanyi lagu yang paling merdu untukmu."

Namun Pohon Mawar menggelengkan kepalanya.

" Mawarku berwarna putih," jawabnya; " seputih buih ombak dilautan, dan lebih putih dari salju di puncak Gunung Himalaya. Tetapi pergilah pada saudaraku yang tumbuh didekat si jam matahari tua, dan mungkin ia dapat memberi apa yang kau inginkan.

Maka Sang Burung Bulbulpun terbang menuju Pohon Mawar yang tumbuh disekitar jam matahari tua.

" Berikan aku sekuntum bunga mawar merah," pintanya, "dan aku akan bernyanyi lagu yang paling merdu untukmu."

Namun Pohon Mawar menggelengkan kepalanya.

" Bunga mawarku berwarna kuning," jawabnya; " sekuning rambut perawan kerajaan Inggris yang duduk diatas tahta batu amber, dan lebih kuning dari bunga narsisusyang mekar di padang rumput tepat sebelum pemotong rumput datang dengan sabit besarnya. Namun pergilah pada saudaraku yang tumbuh di bawah jendela seorang pelajar muda, dan barangkali ia akan memberimu apa yang kamu inginkan."

Maka Sang Burung Bulbul terbang menuju Pohon Mawar yang tumbuh di bawah jendela si pelajar muda.

" Berikan aku sekuntum bunga mawar merah," pintanya, "dan aku akan bernyanyi lagu yang paling merdu untukmu."

Namun Pohon Mawar menggelengkan kepalanya.

" Bunga mawarku berwarna merah," jawabnya, " semerah kaki-kaki merpati, dan lebih merah dari karang-karang yang melambai lambai diterpa gelombang di dalam gua-laut. Tetapi musim dingin telah menghambat pembuluh darahku, es telah menjepit tunas-tunasku, dan badai telah merusak ranting-rantingku, sehingga aku tidak akan mampu menumbuhkan satupun bunga mawar tahun ini."

" Hanya sekuntum bunga mawar merah yang kupinta," jerit Sang Burung Bulbul, " hanya sekuntum bunga mawar merah! Apakah tidak ada cara lain agar aku bisa mendapatkannya?"

" Ada satu cara," jawab Pohon Mawar; " tetapi cara tersebut sangat mengerikan dan aku tidak berani meceritakannya padamu."

" Ceritakan padaku," jawab Sang Burung Bulbul, " Aku tidak takut."

" Jika kamu menginginkan sekuntum bunga mawar merah," kata Pohon Mawar, " kamu harus membuatnya dari musik yang diterpa oleh sinar rembulan, dan dialiri oleh darah dari jantungmu sendiri. Semalam suntuk kau harus bernyanyi padaku dengan duriku yang menusuk menembus jantungmu, dan darahmu, yang menopang hidupmu, harus dialirkan pada pembuluh darahku, sehingga darah itu menjadi milikku."

"Kematian adalah harga yang sangat mahal sebagai bayaran untuk sekuntum bunga mawar," seru Sang Burung Bulbul, " karena seluruh mahluk mendambakan untuk Hidup. Bayangkan betapa menyenangkannya duduk di kayu yang hijau, dan untuk mengamati Matahari dalam kereta emasnya, dan Bulan dalam kereta mutiaranya. Menikmati harumnya tanghulu, dan harumnya bunga lonceng biru yang tersembunyi dalam lembah, dan hembusan angin dari bukit yang membawa semerbak harum bunga-bunga yang tumbuh diantara semak. Namun Cinta jauh lebih berharga dari kehidupan, dan apa artinya jantung seekor burung dibandingkan degup cinta seorang manusia?"

Dan Sang Burung Bulbulpun menebarkan sayap-sayap coklatnya dan terbang membumbung tinggi ke udara. Bayangnya menyelinap diantara semak-semak, layaknya perahu yang berlayar diatas pepohonan.

Sang Pelajar muda masih berbaring terdiam diatas rumput yang sama saat ia tinggalkan, dan airmata masih menggenangi matanya yang indah.

" Berbahagialah," seru Sang Burung Bulbul, " berbahagialah karena engkau akan memperoleh bunga mawar merah yang kau dambakan. Aku akan membuatnya dari lagu cinta yang dinyanyikan dibawah sinar rembulan, dan mewarnainya dengan darah yang mengalir dari jantungku sendiri. Sebagai gantinya aku memintamu untuk menjadi pecinta sejati, karena Cinta lebih bijaksana daripada Filsafat, walaupun Filsafat itu bijak, Cinta itu lebih kuat daripada Kekuasaan, walaupun Kekuasaan itu kuat. Sayap-sayap cinta berwarna merah api, dan tubuhnya berkobar layaknya nyala api. Bibirnya semanis madu, dan nafasnya seharum rempah-rempah."

Sang Pelajar muda memandangnya dari atas rumput dan mendengarkan, namun ia tidak mengerti apa yang Burung Bulbul katakan kepadanya, karena semua yang ia ketahui hanya hal-hal yang ditulis di buku.

Tetapi sang Pohon Ek mengerti dan ia menjadi sedih karena ia sangat senang dengan Sang Burung Bulbul kecil yang telah membangun sarang diatas cabangnya.

" Bernyanyilah untukku untuk yang terakhir kalinya," bisik Pohon Ek, " Aku akan merasa sangat kesepian tanpa mu."

Burung Bulbulpun bernyanyi untuk Pohon Ek dan suaranya bergetar sedih layaknya gelembung-gelembung air yang mendidih dari dalam panci perak. Ketika ia telah selesai bernyanyi Sang Pelajar muda bangun, menarik buku catatan kecil dan sebatang pensil keluar dari sakunya.

" Ia mempunyai sebentuk kreasi..." kata Sang Pelajar muda pada dirinya, seraya berjalan keluar melintasi kebun-- "yang menjadi bagian dari dirinya; tapi apakah burung itu memiliki perasaan? Kukira tidak. Bahkan pada kenyataannya, ia seperti seniman-seniman kebanyakan yang mengutamakan gaya; tanpa ketulusan. Burung itu tidak akan mengorbankan dirinya untuk mahluk lainnya. Yang ia pentingkan hanya musik, dan semua orang tahu bahwa seni itu egois. Meski demikian, harus diakui bahwa ia memiliki nada-nada yang indah ketika bernyanyi. Sayang sekali bahwa nada-nada tersebut tidak memiliki arti, dan tidak berguna." Sang Pelajar pun masuk kedalam kamarnya, berbaring diatas ranjang lipatnya yang kecil, dan mulai berpikir tentang cintanya; lalu setelah beberapa waktu, iapun tertidur.

Dan ketika cahaya bulan mulai berpendar di langit Sang Burung Bulbul terbang menghampiri Pohon Mawar dan menekankan dadanya pada duri pohon. Semalam suntuk ia menyanyi dan menghujamkan dadanya pada duri, bulan yang serupa kristal dingin pun mulai merunduk dan mendengarkan. Semalam suntuk ia bernyanyi dan duri pohonpun mulai menusuk dalam dan lebih dalam lagi menembus dadanya sehingga darah nadi kehidupannya mulai mengalir surut menjauhinya.

Ia membuka nyanyiannya dengan membawakan lagu tentang kelahiran cinta dihati seorang anak lelaki dan anak perempuan. Dan pada tunas pohon bunga mawar muncullah kuntum bunga yang menakjubkan diikuti helai demi helai yang tumbuh seiring lagu demi lagu dinyanyikan.

Pucat pada awalnya, sepucat kabut yang menggantung di sungai-- pucat, sepucat kaki-kaki pagi hari, dan seperak sayap-sayap subuh.

Laksana bayangan mawar di permukaan kaca, laksana bayangan mawar di permukaan telaga, begitulah bentuk mula dari bunga yang tumbuh pada tunas pohon tersebut.

Namun Sang Pohon berteriak memohon pada Burung Bulbul untuk terus menghujamkan dadanya. "Terus tekan dadamu, hai burung kecil," jerit sang pohon, " Atau Hari akan datang sebelum bunga mawar selesai."

Maka Sang Burung Bulbul kecilpun menekankan dadanya lebih dalam lagi menghujam duri, dan nyanyiannya menjadi semakin nyaring, ia bernyanyi tentang lahirnya nafsu di jiwa seorang lelaki dan pelayan wanitanya. Dan semburat merah muda muncul pada helai bunga mawar, seperti semu kemerahan di pipi mempelai pria saat ia mencium bibir mempelai wanita. Namun sang duri belum juga mencapai jantungnya, sehingga jantung Sang Mawar tetap putih, karena hanya darah langsung dari jantung Burung Bulbul lah yang mampu memerahkan jantung Sang Bunga Mawar.

Dan Sang Pohon berteriak memohon pada Burung Bulbul untuk terus menghujamkan dadanya. " Terus tekan dadamu, hai burung kecil," jerit sang pohon, " Atau Hari akan datang sebelum bunga mawar selesai."

Sang Burung Bulbul pun menghujamkan dadanya lebih dalam lagi sehingga duri menusuk lebih dalam dan menyentuh jantungnya, dan tiba-tiba sakit yang amat sangat menyengat keseluruh tubuhnya. Pahit, dan semakin pahit sakitnya, dan semakin gelap lagu yang ia nyanyikan , karena ia menyanyikan Cinta yang disempurnakan oleh Kematian, tentang cinta yang tidak mati dalam batu nisan.

Dan bunga mawar yang indah itu memerah, semerah mawar dari langit timur. Merah darah melekat di helai bunganya, dan merah delima warna jantung bunganya.

Namun suara Burung Bulbul menjadi semakin lemah, dan sayap-sayap kecilnya mulai berkepak-kepak, dan selaput matanya mulai menutup. Lemah dan semakin lemah bunyi lagunya, dan ia merasa sesuatu mencekik dan menyumbat kerongkongannya.

Lalu ia menyanyikan semburat lagu terakhirnya. Sang rembulan yang putih mendengarnya dan ia diam di langit, melupakan matahari yang harus terbit. Sang Bunga Mawar mendengarnya, dan bunga pun menggigil, bergetar penuh kenikmatan, dan membuka helai-helai kelopak bunganya pada dinginnya dini hari. Nyanyian Sang Burung Bulbul dibawa gema kedalam relung-relung gua yang pekat diatas bukit, dan membangunkan gembala-gembala dari mimpi mereka. Nyanyian Sang Burung Bulbul melayang melalui alang-alang ditempi sungai, dan mereka membawa pesannya jauh ke laut.

" Lihat, lihatlah!" seru Sang Pohon, " bunga mawarnya telah mekar dengan sempurna"; tetapi Sang Burung Bulbul tidak menjawab, karena ia telah terbaring mati diantara rerumputan yang tumbuh tinggi, dengan duri tertancap di jantungnya.

Pada siang hari saat Sang Pelajar membuka jendelanya dan melihat keluar. " Oh, betapa beruntungnya saya!" serunya; " sekuntum bunga mawar merah! Seumur hidup aku tak pernah melihat mawar seindah ini. Bunga mawar ini begitu cantik, aku yakin ia memiliki nama latin yang panjang."; Ia pun merunduk dan memetik bunga mawar tersebut.

Lalu ia kenakan topinya, dan berlari menuju rumah Sang Profesor dengan sekuntum bunga mawar di tangannya.

Putri sang profesor sedang duduk didepan pintu membalik-balik sehelai sutra biru dari gulungannya, sementara anjing kecilnya berbaring diatas kakinya.

" Engkau berkata bahwa kau akan berdansa denganku apabila aku membawakanmu sekuntum mawar merah," seru Sang Pelajar. "Ini sekuntum mawar yang paling merah yang pernah ada di muka bumi. Kau dapat menyematkannya didekat hatimu, dan saat kita berdansa bersama, mawar ini akan menyatakan betapa aku mencintaimu."

Tetapi putri profesor mengernyitkan keningnya.

" Maaf, tetapi warna mawar itu tidak cocok dengan warna baju yang akan kukenakan," jawabnya; " lagipula, keponakan Anggota Dewan Kota telah memberiku perhiasan yang mahal , dan jauh lebih berharga daripada sekuntum bunga."

" Oh, kau sungguh seseorang yang tak tahu berterimakasih," seru Sang Pelajar dengan marah; dan ia melempar bunga mawar tersebut ke jalan, Sang Bunga jatuh bergulir masuk ke dalam kumbangan di jalan, dan digilas oleh kereta kuda yang lewat.

" Tidak tahu terimakasih! " seru putri sang profesor," Dengarkan ya, menurutku prilakumu itu tidak pantas; lagipula, kau pikir kau itu siapa? Hanya seorang Pelajar. Lihatlah, apakah kau memiliki sabuk perak disepatumu seperti yang dikenakan keponakan Anggota Dewan Kota? Kukira tidak. " Dan iapun berdiri meninggalkan kursinya lalu masuk ke dalam rumah.

" Ah betapa konyolnya Cinta itu " kata Sang Pelajar saat ia melangkah pergi," Cinta itu tidak sepraktis logika, karena ia tidak bisa membuktikan apapun, dan Cinta itu selalu berkata hal-hal yang tidak akan terjadi, dan membuat orang percaya akan hal-hal yang tidak benar. Pada kenyataannya, Cinta itu sangat tidak praktis, padahal semua orang tahu, dijaman sekarang kepraktisan itu adalah segalanya. Aku akan kembali pada Filsafat dan mempelajari Metafisika."

Maka ia kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sebuah buku besar penuh debu dari lemari bukunya dan mulai membaca...


translated : Id.wikisource.org
*google image from : whiteandblackinme.blogspot.com*

Minggu, 02 Desember 2012

Kisah Geisha

gambar dari google
Malam itu aku iseng… karena bengong di rumah bingung mau ngapain.. Tiba-tiba inget mbongkar lagi koleksi film-film ku dan menemukan film Memoirs Of Geisha yang pernah muncul tahun 2006. Film ini sudah lama tidak ditonton, padahal dulu aku suka banget film ini, akhirnya kutonton lagi… 


Dulu .. aku nonton film ini sambil lalu aja.. cuma mengagumi keindahan gambar film, analogi yang sederhana, pengungkapan maksud dengan bahasa tubuh dan bahasa kiasan.  Tapi malam itu aku nonton dengan ‘hati’.. aku cerna setiap adegan, setiap kata dan setiap bahasa isyarat yang disampaikan. Film yang dibuat berdasar novel dengan judul sama karya Arthur Golden ini sangat menyentuh hati. Untuk yang belum pernah nonton film-nya atau belum baca novelnya ini sedikit sinopsis.

Suatu hari di tahun 1926, seorang gadis kecil berumur 9 tahun bernama Chiyo  anak  nelayan miskin, telah dijual oleh orangtuanya bersama kakak perempuannya, pada sebuah Okiya (rumah Geisha) untuk menjadi Geisha. Di Okiya itulah ia berusaha kabur karena tidak mau dipisahkan dari kakak perempuannya. Kejadian itu menyebabkan dia dihukum hutang dan tidak jadi disekolahkan untuk menjadi Geisha, melainkan hanya sebagai pembantu yang melayani Okiya termasuk melayani kebutuhan Hatsumomo, geisha Okiya yang sangat membenci Chiyo. Beberapa kali Chiyo dijebak dan difitnah oleh Hatsumomo. Namun nasib lain cerita, ketika sedang bersedih dipinggir jembatan, Chiyo bertemu pria menawan yang dipanggil Mr Chairman yang membelikannya es manis. Dengan dua keping uang koin dan saputangan dari Mr. Chairman, Chiyo berdoa dan bertekad untuk menjadi seorang geisha, agar suatu saat bisa dekat dengan Mr. Chairman yang mempesona. Chiyo akhirnya beruntung dengan munculnya Mameha seorang geisha yang mengangkatnya menjadi adik-nya (yang ternyata adalah geisha utusan Mr. Chairman untuk menjadikan Chiyo sebagai Geisha). Mameha yang cantik & sabar mendidik Chiyo menjadi Geisha primadona yang berganti nama menjadi SAYURI dan berhasil “menaklukkan” pria bernama Nobu-San, seorang pengusaha kaya yang benci geisha. 

Perang Dunia II meletus, Okiya kocar-kacir.. Sayuri berpisah dari Nitta yang menjadi induk semangnya, berpisah juga dengan Mameha yang menjadi kakaknya. Namun nasib akhirnya mempertemukan mereka kembali.. Geisha pun hidup lagi. Ending ini kisah ini adalah pertemuan kembali Sayuri dengan Mr. Chairman yang ternyata juga mencintainya". 

Namun di film ini cinta seorang geisha adalah cinta yang terlarang, karena geisha hanya bisa menjadi ‘setengah’ istri. Itulah yang digambarkan Sayuri

Rasa penasaran dan keingin tahuanku tentang Geisha ini membuatku bongkar-bongkar lagi informasi tentang kisah nyata dibalik film Memoirs Of Geisha. Selama ini aku menggambarkan Geisha sebagai sosok pekerja Seks atau prostitue. Tapi ternyata paradigma itu salah..
Geisha dalam bahasa Jepang berarti Artist, atau Seni. Dan seorang Geisha adalah Perempuan pelaku Seni (Seniwati). Seluruh tubuh, gerak-gerik dan kemampuannya adalah Seni itu sendiri. Dari make up, kimono, perhiasan, gerak tubuhnya sampai kemampuan MENARI, TEA CEREMONY, MEMAINKAN SHAMISEN, sampai MIZUAGE (upacara melepas keperawanan yang diikuti dengan lelang). Namun sebelum menjadi Geisha… seorang gadis kecil yang disebut MAIKO (calon geisha)  harus masuk pendidikan Seni yang ketat. Dari novel dan film Memoirs Of Geisha digambarkan perjuangan menjadi Geisha begitu rumit & sulit.. Geisha tidak boleh MERASAKAN dan tidak boleh MENCINTAI. Geisha sepenuhnya adalah milik Seni dan para pria kaya atau bangsawan. Namun dalam buku berjudul “GEISHA OF GION”  karya seorang geisha yang sebenarnya MINEKO IWASAKI, mengubah lagi paradigma tentang Geisha yang sebenarnya.

Mineko Iwasaki
Mineko lahir dari keluarga aristokrat. Dulu sebelum ada Perguruan Tinggi di bidang Seni. Menjadi Geisha adalah satu-satunya cara seorang perempuan bisa mendapatkan pendidikan terbaik di bidang seni. Mineko mulai belajar menari dari seorang begawan tari Noh Mai di Jepang. Dan pada usia 15 tahun dia sudah bisa menjadi penari semi profesional yang disebut Maiko, hingga usia 21 tahun diapun menyandang gelar GEIKO atau penari profesional nomor satu di Gion Kyoto. Ibu angkatnya bersama Masako seorang JIKATA (pemusik). Ini menguntungkan karena mereka bisa berlatih bersama. Di dunia geisha, pewaris Okiya adalah geisha yang paling berbakat di Okiya. Dan menjadi Geisha merupakan impian banyak gadis, selain itu menikah dengan geisha merupakan sesuatu yang terhormat, karena Geisha tidak saja seniwati tapi juga terpelajar dan kenal banyak orang penting, kaya dan mandiri.
    
Mineko Iwasaki
Namun dibalik itu ada kesalah pahaman yang akhirnya membentuk opini pada masyarakat bahwa geisha itu sama dengan Pelacur. Hal ini dipicu oleh kebiasaan pada setiap festival, para geisha tidak dibayar ketika menari, menyanyi, main music atau drama. Padahal orang-orang menarik tiket masuk yang sangat mahal bagi yang ingin menonton. Terpaksalah para geisha mencari cara untuk membiayai gaya hidupnya  yang tidak murah. Kimono, alat music, pelajaran seni bukan barang murah.Pendapatan geisha terbesar datang dari menjadi bintang iklan, sumbangan para pencinta seni, dan bayaran dari menghibur tamu-tamu di pesta. Nah.. inilah yang memicu kesalah pahaman dan membentuk opini di masyarakat bahwa Geisha sama dengan Pelacu Kelas Atas..
Kesalah pahaman ini sampai ke seluruh dunia. Suatu contoh yang dialami Mineko adalah ketika ia diundang untuk menghadiri jamuan makan resmi bersama Ratu Elizabeth di Jepang. Ketika itu ia adalah penari Mai terbaik  di  Kyoto, dan untuk menghormati ratu Elizabeth, pemerintah Jepang mendudukannya di samping Ratu Elizabeth. Namun ternyata sang ratu tidak sudi mengobrol, menengok pun tidak mau. Tampaknya Ratu Elizabeth mengira dirinya adalah pelacur tingkat tinggi.

Itulah yang bisa saya tulis ulang dari kehidupan Geisha.. Ini menarik karena masih banyak orang menyalah artikan Geisha. Meskipun menurut pendapatan saya.. semua selalu kembali pada manusia-nya. Mampukah kita memberi image yang baik tentang profesi yang kita tekuni. Karena menjadi  siapapun atau profesi apapun bisa membuat kita ‘tergelincir’ tidak harus menjadi geisha, atau kalo di Jawa.. Image Sinden, Penari Tayub,  Ronggeng, dll yang disalah artikan buruk. Padahal mereka adalah para perempuan pelaku SENI.


The Heart Dies A Slow Death
Shedding Each Hope Like Leaves
Until One Day There Are None
No Hopes
No Remains
She Paints Her Face To Hide Herface
Her Eyes Are Deep Water
It Is Not For Geisha To Want
It Is Not For Geisha To Feel
Geisha Is An Artist Of The Floating World
Shea Dances.. She Sings.. She Entertains You
Whatever You Want
The Rest Is Shadows
The Rest Is Secret
Geisha Are Not Courtesans
And We Are Not Wives
We Sell Our Skills Not Our Bodies
We Created Another Secret World
A Place Only Of Beauty
The Very Word “Geisha” Means “Artist”
And To Be A Geisha Is To Be Judged As A Moving Work Of Arts

Agony & Beauty For Us Live Side By Side
Your Feet Will Suffer
Your Fingers Will Bleed
Even Sitting A Sleeping Will Be Painful


Terima Kasih untuk sumber tulisan saya dari mrm-indonesia.
Image source : tumblr.com 

Jumat, 30 November 2012

Kereta Api Surga

source image from google
Ini adalah kisah nyata yang dikutip dari buku “Menyingkap beberapa kejadian dan jawaban-jawaban doa yang mengherankan” terbitan 1894 yang berjudul "Does This Railroad  Lead To Heaven ?".
Kisah seorang kondektur yang bertemu dengan ‘malaikat’ kecil di kereta api tempatnya bekerja. 

Dalam perjalanan seringkali kita bertemu dengan orang-orang dari berbagai suku bangsa dan bahasa. Namun kali ini aku menyaksikan kisah yang sangat indah ketika sedang dalam perjalanan dengan Kereta Api.
     
Kereta Api menuju ke barat, dan saat itu sore hari. Di sebuah stasiun seorang gadis kecil berusia sekitar 8 tahun naik kereta api ini, mengapit sebuah tas kecil di bawah lengannya. Ia masuk kedalam deretan bangku tempatku duduk. Kemudian ia mulai mengamati setiap wajah-wajah yang asing  baginya. Ia kelihatan kuatir, dengan memakai tas kecilnya sebagai bantal, ia bersandar pada bangku dan mencoba untuk tidur.
 
Tidak lama kemudian, kondektur mulai memeriksa karcis dan penumpang. Gadis itu lalu meminta ijin apakah ia boleh duduk ditempatnya itu. Kondektur itu menjawab boleh, dan dengan ramah ia meminta karcis gadis itu. Gadis itu mengatakan kalau ia tidak memiliki karcis. Lalu aku dengar sebuah percakapan antara si gadis kecil & pak Kondektur.
“Kemana kamu mau pergi nak ?”
“Aku akan pergi ke Surga” sahut gadis itu
“Siapa yang membayar karcismu ?”
“Pak, bukankah kereta api ini menuju ke Surga dan bukankah Yesus juga menumpang disini?”
“ Aku tidak berfikir begitu nak”
“Mengapa Bapak tidak berfikir begitu ? Sebelum ibuku meninggal ia selalu menyanyikan lagu untukku tentang kereta api Surgawi, dan Bapak kelihatannya sangat ramah dan baik, jadi aku piker inilah kereta api itu. Ibuku selalu menyanyikan tentang Yesus yang juga naik kereta api Surgawi dan Dialah yang membayar karcis bagi setiap orang, dan kereta api itu selalu berhenti pada setiap stasiun untuk menaikkan penumpang. Sekarang ibuku sudah tidak menyanyi lagi buatku. Dan tak ada seorangpun yang menyanyikan lagu Kereta Api Surgawi untukku. Jadi aku piker sebaiknya aku naik kereta api ini dan pergi melihat ibuku di Surga. Apa bapak juga menyanyikan lagu itu untuk anak gadismu yang kecil ? Apakah bapak punya seorang putrid ?”
 
Dengan berlinang airmata kondektur itu menjawab “ Tidak sayangku, aku tidak lagi punya anak gadis. Dulu pernah ada, tetapi ia sudah meninggal beberapa waktu lalu dan pergi ke Surga”
Gadis itu berkata lagi “ Jadi sekarang bapak naik kereta api ini untuk melihat anak gadis bapak ke Surga ?”
Saat itu setiap orang yang ada di dalam kereta terharu. Sulit sekali untuk melukiskan suasana yang aku saksikan ini. Beberapa orang mulai berbisik-bisik “Allah memberkati anak kecil ini. Dia seorang malaikat”. Mendengar dikatakan sebagai malaikat, gadis kecil itu kembali berkata “Iya.. ibuku dulu selalu berkata seperti itu, suatu saat aku akan menjadi malaikat”. Lalu ia berkata lagi pada pak kondektur.
“Apakah bapak mencintai Yesus ? aku mencintaiNYa dan jika bapak mencintaiNya, Ia akan membawa bapak masuk kedalam kereta apiNya menuju Surga. Sekarang aku sedang menuju kesana dan kuharap bapak mau pergi bersamaku. Aku tahu Yesus akan mengijinkan aku masuk ke Surga, dan bila aku tiba disana, Ia akan mengijinkan pula bapak untuk masuk juga setiap orang yang menumpang kereta apiNya.. ya.. semua orang ini. Tidakkah bapak ingin melihat Surga, melihat Yesus dan anak gadismu yang kecil ?”
  
Kata-kata itu begitu tulus dan mengharukan, membuat setiap orang yang mendengar berlinang air mata. Gadis kecil itu kembali berkata, “ Pak, bolehkah aku tinggal disini sampai kita nanti tiba di Surga ? Maukah bapak membangunkanku bila kita nanti sudah tiba disana, supaya aku bisa melihat Ibuku, Yesus dan anak gadismu ?”
“Ya Sayangku.. boleh” Jawab kondektur
“Apa yang harus kukatakan pada anakmu bila aku nanti bertemu dengannya ? Bolehkah aku katakana bahwa aku melihat ayahnya menumpang kereta apinya Yesus ?”
Kata-kata itu tentu saja membuat banjir airmata bagi yang mendengar. Pak kondektur bertelut disisi gadis kecil itu dan menangis, ia tidak bisa menjawab. Namun saat itu kemudian terdengar masinis meneriakkan nama sebuah stasiun kereta api, dan pak kondektur-pun turun dari kereta.
Selang beberapa hari kemudian bapak Kondektur itu berniat mengadopsi si gadis kecil itu. Dicarinya gadis kecil itu di stasiun tempat dia meninggalkannya. Namun kata orang-orang yang ada disitu, selang 3 hari setelah dia kembali, gadis kecil itu mandadak meninggal dunia tanpa sebab. Jiwanya yang berbahagia itu telah pergi ke tempat dimana ibunya kini berada, tempat dimana anak pak Kondektur itupun berada, tempat kediaman para malaikat. Pak Kondektur menyesal mendengar berita kematian gadis kecil itu, tapi iapun menyadari bahwa putrinya di Surga kini telah mendengar khabar dari dunia tentang ayahnya, yang sedang berada dalam kereta api Surgawi.

Mimpi Yang Bersambung

Setiap kita terlelap dalam tidur.. biasalah kalau kita bermimpi.. ada mimpi yg bisa diingat.. namun ada yang hilang dan terlupa saat ki...